Nasehat Terbaik Dalam Menghadapi & Melewati Masa-masa Sulit

menghapi-masalah
Setiap orang pasti punya masalah. Masalah keluarga, masalah cinta, masalah ekonomi, masalah kesehatan, masalah pribadi, dll. Dimanapun dan kapanpun masalah itu datang kita wajib bersyukur karena berarti kita masih diberi kesempatan untuk hidup, belajar dan menjadi semakin besar.

Semakin Besar masalah yg datang pada kita, artinya kita akan menjadi semakin Besar. Karena hanya orang Besar yg memiliki masalah yg Besar. Misal: Ketika kita kecil, memiliki hutang beberapa ratus ribu adalah menjadi besar masalah buat kita. Ketika kita remaja, mungkin memiliki hutang beberapa juta adalah masalah besar buat kita. Namun ketika kita dewasa dan sukses memiliki hutang beberapa milyar pun bukan menjadi masalah besar buat kita.

Alkisah pada suatu ketika hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan raut mukanya ruwet.

Tanpa membuang waktu orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak itu hanya mendengarkan dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam dan meminta tamu itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan.

“Coba minum ini dan katakana bagaimana rasanya”, ujar Pak Tua itu.
“Pahit.., pahit sekali rasanya…”, jawab tamu itu sambil meludah kesamping.

Pak Tua sedikit tersenyum. Lalu ia mengajak tamunya berjalan ke tepi telaga didekat tempat tinggalnya.
Di samping telaga yg tenang itu, Pak Tua kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga. Dengan sepotong kayu dibuatnya gelombang-gelombang dari adukan-adukan itu yang menciptakan riak-riak air.

“Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah. Bagaimana rasanya?”, perintah Pak Tua.
“Segar”, sahut tamunya.
“Apakah kamu merasakan garam didalam air itu?”, Tanya Pak Tua lagi.
“Tidak”, jawab si anak muda.

Dengan kebapakan Pak Tua menepuk-nepuk punggung anak muda itu. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh disamping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan itu adalah layaknya segenggam garam, tidak lebih dan tidak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama. Dan memang akan tetap selalu sama.”

“Tapi, kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak Tua itu kembali memberi nasehat, “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas. Buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”
Keduanya lalu beranjak pulang.

Jadi ketika masalah itu datang di hidupmu. Jadilah pribadi yg lebih besar dari masalahmu. Persiapkan ruang terbesar di hidupmu. Ruang itu adalah HATI.

Percayalah, Tuhan tidak akan memberikan cobaan pada hambaNya melebihi batas kemampuannya.

Courtesy of: Frans Pekasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: